DAYA ANTIMIKROBA EKSTRAK DAUN KENIKIR (Cosmos caudatus) TERHADAP MIKROBA MULUT

Penulis

  • Sitti Sakinah MTs DDI Karamian, Masalembu Sumenep

DOI:

https://doi.org/10.30651/pb:jppb.v9i1.12412

Kata Kunci:

Ekstrak daun kenikir (Cosmos caudatus), mikroba mulut, daya antimikroba

Abstrak

Tanaman kenikir (Cosmos caudatus) memiliki kandungan senyawa flavonoid, polifenol, saponin, minyak atsiri dan alkaloid yang berfungsi sebagai daya antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan daya antimikroba dari berbagai konsentrasi ekstrak daun kenikir (Cosmos caudatus) terhadap mikroba mulut. Konsentrasi ekstrak yang digunakan adalah (100%, 75%, 50% dan 25%). Hasil penelitian dimanfaatkan untuk membuat brousur. Jenis penelitian eksperimental dengan Post Test Only Control Design. Daya antimikroba diukur berdasarkan tidak ada/sedikitnya mikroba yang tumbuh pada media. Berdasarkan hasil analisis data, menggunakan uji Kruskal Wallis dan uji Mann Whitnet tingkat ketelitian 0,005 disimpulkan bahwa ada perbedaam signifikan daya antimikroba dari berbagai konsentrasi ekstrak daun kenikir (Cosmos caudatus) terhadap mikroba mulut. Daya antimikroba yang paling efektif ditunjukkan pada perlakuan konsentrasi 75% yang merupakan konsentrasi terkecil yang dapat mengahambat pertumbuhan secara maximal dengan 0 jumlah mikroba sampai dengan pengamatan 48 jam. Dari hasil penelitian dibuat media edukasi kesehatan masyarakat dalam bentuk brosur yang menarik.

Referensi

Agoes Azwar., (2010). Tanaman Obat Indonesia. edk 3, Salemba Medika.

Amsya ulin nuha, Sutikno bambang, dan Pratiwi sri hariningsih. (2017). Pengaruh pemupukan organik dan nitrogen pada pertumbuhan dan hasil tanaman kenikir (Cosmos caudatus). Jurnal Agroteknologi. Universitas Merdeka Pasuruan.

Departemen Kesehatan RI. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Diktorat Jendral POM-Depkes RI. Jakarta.

Ditjen POM. (2000). Parameter standar parameter umum ekstrak tumbuhan obat. Departemen Kesehatan RI. Jakarta. 10-11, 31.

Dwiyanti, Ibrahim, Trimulyono. (2014). Pengaruh Ekstrak Daun Kenikir (Cosmos caudatus) terhadap Pertumbuhan Bakteri Bacillus cereus secara In Vitro. Jurnal Lentera Bio: Universitas Negeri Surabaya.

Fatisa, Y. (2013). Daya Antibakteri Ekstrak Kulit dan Biji Buah Pulasan (Nephelium mutabile) terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli secara in vitro. Jurnal Peternakan Vol. 10 (2)

Gaty Safita, Endah Rismawati Eka Sakti, Livia Syafnir, (2015). Uji Aktivitas Antibakteri Daun Kenikir (Cosmos caudatus Kunth.) dan Daun Sintrong (Crassocephalum crepidioides (Benth.) S. Moore.) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa,Prosiding Penelitian SPeSIA Unisba, pp.421–428

Hanum, N.A., Ismalayani, Syanariah, M. (2012). Uji Efek Bahan Kumur Air Rebusan Daun Sirih (Piper bitle L) terhadap Pertumbuhan Plak. Jurnal Kesehatan Vol.1 No.10

Hertiani T., Palupi, I.S.,Sanliferianti, Nurwindasari, H.D. (2003). Uji Potensial Antimikroba terhadap S. aureus, E. coli, Shigella dysentriae, dan Candida albicans dari Beberapa Tanaman Obat Tadisional untuk Penyakit Infeksi. Pharmacon.

Juwita, J. (2013). Aktivitas Antibakteri Ekstrak Buah Muda, Daun dan Kulit Batang SawoManila (Manilkara zapota (L.) Van Royen) Terhadap Vibrio cholerae dan Clostridium perfringens. Skripsi. Yogyakarta : Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Kasogi, I., Sarwiyono, dan P. Surjowardojo. (2014). Ekstrak Metanol Daun Kersen (Muntingia calabura L.) Sebagai Antimikroba Alami Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus pada Sapi Perah Di Daerah Ngantang, Malang. Jurnal.

Lutpiatina, Rizqi Amaliah, Dewi Dwiyanti. (2017). Daya hambat ekstrak daun kenikir (cosmos caudatus) terhadap Staphylococcus aureus. Jurusan Analis Kesehatan: Poltekkes Kemenkes Banjarmasin.

Mangundjaja, S., Nisa, R.K., Lasaryna, S., Fauziah, E., Mutya. (2000). Pengaruh klokhersidin terhadap Populasi Kuman Streptococcus mutans di dalam Air Liur. Bagian Biologi Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.

Nuryani dan Jhunnison. (2016). Daya Antifungi Infusa Daun Kenikir (Cosmos caudatus ) Terhadap Pertumbuhan Jamur Candida albicans Secara in Vitro. Jurnal teknologi laboratorium: Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.

Pelczar, M.J., and Chan, E.C.S., (1988). Dasar-Dasar Mikrobiologi jilid 2. The McGraw-Hill Companies.

Pelczar, M. J dan E.C.S Chan. (2005). Dasar Dasar Mikrobiologi. Jilid 2. Hadioetomo dkk, penerjemah. Jakarta :UI Press.

Prasetyo, E. Inoriah. (2013). Pengelolaan Budidaya Tanaman Obat-Obatan (Bahan Simplisia). Badan Penerbitan Fakultas Pertanian UNIB. Bengkulu

Pratiwi, S. T. (2008). Mikrobiologi Farmasi. Jakarta : Erlangga.

Poeloengan., Masniari., Praptiwi. (2010). Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kulit Manggis (Ganicia mangostana Lin). Skripsi. Malang : Universitas Negeri Malang.

Rasdi, N. H. M. (2010). Antimicrobial studies of Cosmos causatus, (Compositae). Vol 4 (8)

Sopianah yayah. (2017). Hubungan Mengunyah Unilateral dengan Status Kebersihan Gigi dan Mulut pada Mahasiswa Tingkat I Jurusan Keperawatan Gigi. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada.Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya.

Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R dan D. Bandung: Alfabet.

Suwondo, S. (2007). Skrining tumbuhan obat yang mempunyai aktivitas antibakteri penyebab karies dan pembentuk plak. Jurnal Bahan Alam Indonesia.

Tri Mulyani, Hidayat dadan , Isbiyantoro, Fatimah yeni. (2017). Ekstrak daun katuk (Sauropus androgynus (L) Merr) sebagai antibakteri terhadap Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Jurnal Farmasi Lampung. Universitas Tulang Bawang Lampung.

Yosephine, A.D., Wulanjati, M.P., Saifullah T.N.,Astuti P. (2013). Formulasi Mouthwash Minyak Atsiri Daun Kemangi (Ocimum Bacilicum L) serta uji antibakteri dan antibiofilm terhadap Bakteri Streptococcus mutans Secara In Vitro.102, Universitas Gajah Mada: Yogyakarta.

Terbitan

Bagian

Artikel