Paradoks Inklusi Digital dan Literasi Syariah pada Investor Ritel Muda di Pasar Modal Indonesia

Authors

  • Sabrina Dwi Indriani Universitas Peradaban
  • Haninda Isnaeni Universitas Peradaban
  • Metiya Fatikhatur Riziqiyah Universitas Peradaban

DOI:

https://doi.org/10.30651/jms.v11i1.30655

Abstract

Abstrak
Sektor pasar modal syariah di Indonesia menunjukkan eskalasi pertumbuhan investor ritel yang signifikan, terutama dari kelompok generasi muda. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Desember 2024 mencatat jumlah Single Investor Identification (SID) mencapai 14.871.306, dengan 79,31% di antaranya berasal dari investor berusia di bawah 40 tahun. Meskipun peningkatan partisipasi investor berlangsung pesat, fenomena tersebut belum diimbangi oleh tingkat literasi keuangan syariah yang memadai. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 menunjukkan bahwa indeks inklusi keuangan syariah masih berada pada level 12,88%, yang mengindikasikan adanya kesenjangan antara kemudahan akses digital dan pemahaman fundamental terhadap prinsip-prinsip keuangan syariah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mengeksplorasi keterkaitan antara literasi keuangan syariah, persepsi risiko, dan perilaku investasi investor ritel. Hasil penelitian mengungkapkan adanya paradoks antara tingginya inklusi digital dan rendahnya literasi keuangan syariah, di mana partisipasi investor lebih banyak dipengaruhi oleh dorongan digitalisasi dibandingkan pemahaman mendalam mengenai struktur akad serta strategi mitigasi risiko. Temuan ini menegaskan pentingnya reposisi strategi edukasi dan kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada perluasan akses, tetapi juga pada peningkatan kualitas literasi guna mendukung keberlanjutan ekosistem pasar modal syariah yang kredibel.

Kata kunci: pasar modal syariah, literasi keuangan syariah, investor ritel, inklusi digital, perilaku investasi

Abstract
The Islamic capital market in Indonesia shows significants retail investor participation, particularly among younger generations. Central Securities Depository (KSEI) data as of December 2024 records 14,871,306 Single Investor Identifications (SID), with 79.31% aged under 40. Despite the rapid growth in investor participation, this expansion has not been accompanied by an adequate level of Islamic financial literacy. The 2024 National Survey on Financial Literacy and Inclusion (SNLIK) reports that the Islamic financial inclusion index remains relatively low at 12.88%, highlighting a gap between the expansion of digital access and investors’ fundamental understanding of Islamic financial principles. This study employs a descriptive qualitative approach to explore the relationship between Islamic financial literacy, risk perception, and retail investment behavior. The findings reveal a paradox between high digital inclusion and low Islamic financial literacy, whereby investor participation is primarily driven by digitalization enthusiasm rather than a comprehensive understanding of contractual structures and risk mitigation strategies. The study emphasizes the need to reposition educational strategies and policy frameworks by prioritizing the quality of financial literacy to ensure the development of a credible and sustainable Islamic capital market ecosystem.

Keywords: Islamic capital market, Islamic financial literacy, retail investors, digital inclusion, investment behavior

 

Published

2026-02-17

How to Cite

Dwi Indriani, S., Isnaeni, H., & Fatikhatur Riziqiyah, M. (2026). Paradoks Inklusi Digital dan Literasi Syariah pada Investor Ritel Muda di Pasar Modal Indonesia. Jurnal Masharif Al-Syariah: Jurnal Ekonomi Dan Perbankan Syariah, 11(1). https://doi.org/10.30651/jms.v11i1.30655

Issue

Section

Artikel