Penerapan Arsitektur Neo Vernakular Pada Perancangan Gedung Kesenian di Kabupaten Bangkalan
DOI:
https://doi.org/10.30651/architeria.v2i1.14247Abstrak
Indonesia memiliki beragam kesenian budaya yang unik serta khas, salah satunya Bangkalan. Kabupaten Bangkalan memiliki banyak seniman serta budayawan muda sampai senior yang mempunyai kualitas baik. Seniman serta budayawan dari Kabupaten Bangkalan kerap berkumpul buat bertukar pikiran serta dipraktekan langsung lewat pertunjukan. Alun– alun kota serta Pendopo agung sampai saat ini masih jadi tempat untuk para seniman serta budayawan berkumpul, namun karena tempat yang digunakan merupakan bukan basis buat mempertunjukan serta mengekspresikan kesenian membuat warga Bangkalan khususnya seniman serta budayawan meminta adanya bangunan yang cocok untuk kesenian yakni gedung kesenian di Kabupaten Bangkalan. Untuk tingkatkan minat pengunjung untuk mendatangi gedung Kesenian, perlu mengadopsi desain yang menarik perhatian tanpa meninggalkan dari budaya lokal. Arsitektur neo- vernakular merupakan konsep bangunan yang membagikan nilai tambah pada budaya lokal Madura, mempunyai unsur tradisional lokal serta mengikuti pertumbuhan era modern, sehingga bisa menjadi daya tarik khususnya untuk kalangan milenial. Perancangan Gedung Kesenian ini diharapkan bisa membantu melestarikan serta tingkatkan minat warga terhadap seni. Pula selaku wadah buat mendidik, menghibur serta membagikan karya seni buat tingkatkan perekonomian warga di bidang seni.
Referensi
Bahansubu, R. P., Waani, J. O., & Wuisang, C. E. v. (2019). Bolaang Mongondow Cultural Center. Arsitektur Neo Vernakular. Jurnal Arsitektur DASENG, 8(1), 96–108.
Cindy P. Lengkong1. (2020). GEDUNG KESENIAN DI MINAHASA UTARA. Jurnal Arsitektur DASENG , 9(1).
Tulistyantoro, L. (2006). Makna Ruang Pada Tanean Lanjang Di Madura. Dimensi Interior, 3(2).
Widi, C., & Prayogi, L. (2020). Penerapan Arsitektur Neo-Vernakular pada Bangunan Buday dan Hiburan. Jurnal Arsitektur ZONASI, 3(3), 282–290. https://doi.org/10.17509/jaz.v3i3.23761