Pengaruh Brain Gym Terhadap Kadar Kortisol Selama Hospitalisasi Pada Anak Usia Pra-sekolah

Penulis

  • Atik Pramesti Wilujeng Stikes Banyuwangi

DOI:

https://doi.org/10.30651/jkm.v3i1.1584

Kata Kunci:

Brain gym, kadar kortisol, pra sekolah

Abstrak

Hospitalisasi membuat anak menjadi takut dan cemas sehingga bisa mempengaruhi lamanya hari perawatan. Brain gym membantu anak untuk dapat memanfaatkan seluruh potensi otak alamiahnya melalui gerakan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh brain gym  terhadap kadar kortisol anak prasekolah selama hospitalisasi. Peneliti menggunakan desain quasy experiment dengan melakukan penilaian kadar kortisol sebelum dan sesudah diberikan senam otak dan melibatkan kelompok kontrol sebagai pembanding. Responden yang terlibat pada penelitian ini anak usia 3-5 tahun yang diketahui mengalami cemas akibat hospitalisasi berjumlah 10 anak yang diambil menggunakan  tehnik purposive sampling. Hasil paired t test pada kelompok perlakuan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kadar kortisol sebelum dan sesudah diberikan intervensi senam otak dengan nilai Ï = 0,012 sedangkan hasil uji paired t test pada kelompok kontrol menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kadar kortisol sebelum dan sesudah diberikan intervensi senam otak dengan nilai Ï = 0,217. Senam otak merupakan metode gerak yang menimbulkan perasaan senang dan nyaman pada anak serta menurunkan kecemasan. Pemberian senam otak yang dikemas dengan pendekatan bermain maka kecemasan anak karena hospitalisasi menjadi berkurang. Pemberian senam otak dapat dikembangkan di ruang perawatan untuk membantu anak dalam relaksasi sehingga mengurangi kecemasan anak karena dirawat untuk memenuhi kenyamanan anak.

Biografi Penulis

Atik Pramesti Wilujeng, Stikes Banyuwangi

Dosen di stikes banyuwangi, sekretaris program studi d3 keperawatan

Referensi

Dennison, P., (2009). Brain Gym (senam otak). Edisi bahasa Indonesia (cetakan X). Alih bahasa: Ruslan dan Rahayu, M. Jakarta: Grasindo.

Hockenberry , J. M., & Wilson, D. (2007). Wong’s nursing care of infant and children. (8 th edition). Canada: Mosby Company.

Koller D. (2008). Child life assessment: Variables associated with child’s ability to cope with hospitalization. http://www.ministryhealth.org/tesmosfuse.nws. Diakses 12 juli 2011.

Lewer, H. (1996). Belajar merawat di bangsal anak. (Enie Novitasari; Maria A. Wijaya Rini. Penerjemah). Jakarta: EGC

Pratiwi, (2009). Penurunan Tingkat Kecemasan Anak rawat inap dengan Permainan Hospital story di RSUD Kraton Pekalongan

Purwandari, H. (2009). Pengaruh terapi seni dalam menurunkan tingkat kecemasan anak usia sekolah yang menjalani hospitalisasi di wilayah kabupaten banyumas. Tesis UI.

Rudolph, A.M., & Hoffman. (2006). Buku ajar pediatrik. Alih bahasa: Samik Wahab; Trastonenojo; Pendit). Jakarta: EGC.

Satiti, N. P. (2013). Penurunan kadar kortisol dan perubahan stres persepsi pada pasien kusta yang mengalami distres dengan menggunakan modifikasi Cognitive Behavioral Stress Management (CBSM)- zikir Asmaul Husna.Tesis Program Magister Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya.Tidak dipublikasikan

Subardiah, P.I. (2009). Pengaruh permainan therapeutik terhadap kecemasan, kehilangan kontrol dan ketakutan anak prasekolah selama dirawat di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek propinsi lampung. Tesis UI.

Widianti, Ririn. C.(2011). Pengaruh senam otak terhadap kecemasan akibat hospitalisasi pada anak usia Pra Sekolah di Rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta. Tesis Magister Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. http://repository.ui.ac.id

Wong, D.L. (2004). Pedoman klinis keperawatan pediatrik. (Edisi 4). (Monica Ester. Penerjemah). Jakarta: EGC.

Unduhan

Diterbitkan

2018-05-29