Representasi Bromance dan Maskulinitas dalam Novel Untuk Dia Yang Terlambat Gue Temukan Karya Esti Kinasih

Tania Intan (1), Nany Ismail (2)
(1) Departemen Susastra dan Kajian Budaya, Universitas Padjadjaran, Indonesia, Indonesia,
(2) Departemen Linguistik, Universitas Padjadjaran, Indonesia, Indonesia

Abstrak

Bromance Representation and Masculinity in Novel Untuk Dia Yang Terlambat Gue Temukan Written By Esti Kinasih

 

ABSTRAK

Bromance merupakan hubungan dekat dan relatif intim di antara dua laki-laki atau lebih, tanpa didasari oleh ketertarikan seksual. Penelitian ini membahas bromance dan maskulinitas yang direpresentasikan di dalam novel bergenre teen lit Untuk Dia yang Terlambat Gue Temukan (2020) karya Esti Kinasih. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan pendekatan gender. Data berupa kata, frasa, dan kalimat dikumpulkan dengan teknik simak catat setelah dilakukan pembacaan tertutup. Data kemudian diklasifikasi, diinterpretasi, dan dikaji dengan teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relasi bromance dibangun di antara para tokoh laki-laki dengan latar sekolah dan konteks permasalahan remaja. Alasan yang mendasari bromance adalah kesamaan kepentingan dan pemahaman sebagai sesama laki-laki. Manifestasi bromance ditunjukkan melalui sikap mendengarkan, memahami, membantu, dan melindungi. Relasi bromance kuat karena laki-laki bekerja sama untuk tidak tampil sebagai pihak yang lemah dan emosional (terutama) di hadapan perempuan. Perempuan sendiri ditampilkan pasif, lemah, dan patuh menghadapi laki-laki dan persekutuan mereka di dalam bromance.

Kata kunci: bromance, Esti Kinasih, maskulinitas, teen lit


ABSTRACT

Bromance is a close and relatively intimate relationship between two or more men, without being based on sexual attraction. This research is aimed at discussing the bromance and masculinity which is represented in the teen literature genre in novel Untuk Dia yang Terlambat Gue Temukan (2020) written by Esti Kinasih. This research uses descriptive-qualitative method with a gender approach. Data in the form of words, phrases, and sentences were collected using a note-taking technique after a closed reading. The data are then classified, interpreted, and reviewed using content analysis techniques. The results of this study indicate that Bromance relationships are built between male figures with school backgrounds and the context of adolescent problems. The reason that underlies bromance is the same interests and understanding as fellow men. Bromance is manifested in an attitude of listening, understanding, helping, and protecting. Bromance relationships are strong because men work together to avoid appearing as weak and emotional (especially) in front of women. Women themselves are shown to be passive, weak, and obedient to men and their fellowship in bromance.

Keyword: Bromance,Esti Kinasih, masculinity, teen literature

Artikel teks lengkap

##article.generated_from_xml##

Referensi

Adji, M. (2017). Budaya Anak Muda pada Sastra Populer (D. Suganda Ed.). Bandung: Unpad Press.

Agnes, T. (2016). Esti Kinasih Kembali dengan Novel Teen lit Jingga Untuk Matahari. DetikHOT. https://hot.detik.com/book/3373358/esti-kinasih-kembali-dengan-novel-teenlit-jingga-untuk-matahari

Anwar, F. (2017). Bromance, Ketika Pria ‘Terikat’ Pertemanan. Detikhealth. https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-3498740/bromance-ketika-pria-terikat-pertemanan-erat

Beauvoir, S. d. (2016). Second Sex: Fakta dan Mitos. Jakarta: PT. Buku Seru.

Brook, H. (2015). Bros before Ho(mo)s: Hollywood Bromance and the Limits of Heterodoxy. Men and Masculinities, 18(2), 249-266.

Cavanaugh, J. C. d. B.-F., F. (2006). Adult development and aging (5th ed.). Belmont: Thomson Learning.

Connell, R. (2005). Masculinities (2e ed.). Berkeley - Los Angeles: University of California Press.

Davies, K. d. A., A. (2016). Friendship development and intergroup friendship processes. Journal of Social Issues, 72(3), 489-510.

Faruk. (2012). Sastra sebagai Produk dan Produsen Kebudayaan Sebuah (De)Konstruksi. Yogyakarta: Yasayo.

Febrieta, D. (2016). Relasi Persahabatan. Jurnal Kajian Ilmiah UBJ, 16(2), 152-158.

Hanani, S. U. R., Nilla. (2019). Representasi Bromance dalam Film Indonesia Berlatar Belakang Budaya Jawa Yowis Ben. MetaKom, 3(2), 51-63.

Imelda. (2017). Bagi Pria, Bromance ternyata Lebih Penting daripada Hubungan Asmara. Womantalk. https://womantalk.com/friendship/articles/bagi-pria-bromance-ternyata-lebih-penting-daripada-hubungan-asmara-xqzOQ.

Intan, T. (2019). Cinderella Complex pada Teen Lit Eiffel I’m in Love karya Rahmania Arunita dan Fairish karya Esti Kinasih. Jentera: Jurnal Kajian Sastra, 8(2), 168. doi:http://dx.doi.org/10.26499/jentera.v8i2.1476

Jumail, Z. S., Amirudin Rahim. (2019). Pendidikan Karakter dalam Novel Jingga dan Senja Karya Esti Kinasih, Analisis Kelayakan Sebagai Bahan Ajar Sastra di SMA/MA. Jurnal Pendidikan Bahasa, 1(8), 32-43.

Kinasih, E. (2004). Fairish. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kinasih, E. (2010). Jingga dan Senja. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kinasih, E. (2020). Untuk Dia Yang Terlambat Gue Temukan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kirnandita, P. (2017). Bromance: Mesra tanpa Asmara. Tirto.id. https://tirto.id/bromance-mesra-tanpa-asmara-cy79

Kriswanti, W. (2019). Bromance, Memahami Kebutuhan Pria akan Teman Pria. LineToday. https://today.line.me/id/v2/article/7RLPV8

Kurniawan, W. P., Andriani, V., Rikayama, T. (2020). Pembuatan Film Pendek Bertemakan Persahabatan “How Bromance Usâ€. JTIM: Jurnal Teknologi Informasi dan Multimedia, 2(2), 109-115.

Maharrani, A. (2017). Bromance lebih memuaskan bagi sebagian laki-laki. Berita Tagar. https://beritagar.id/artikel/gaya-hidup/bromance-lebih-memuaskan-bagi-sebagian-laki-laki

Nodelman, P. (2002). Making Boys Appear: the Masculinity of Children’s Fiction. In J. Stephens (Ed.), Ways of Being Male. New York: Routledge.

Noor, R. (2017). Sastra Populer dan Masalah Mutu Penelitian Sastra di Perguruan Tinggi. Nusa, 12(4), 265-275.

Oesman, A. T. (2010). Fenomena Tawuran sebagai Bentuk Agresivitas Remaja (Kasus Dua SMUN di Kawasan Jakarta Selatan). (Skripsi), Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Oh, D. C. (2018). Elder men’s bromance in Asian lands: normative Western masculinity in Better Late than Never. Critical Studies in Media Communication. doi:10.1080/15295036.2018.1463102

Pachrunisyah, I., Charlina, Rumadi, H. (2017). Masculinity Female Characters in A Novel Cewek!!! by Esti Kinasih Jurnal Online Mahasiswa FKIP, 4(1), 1-8.

Permata, D., Priyatna, A., Rahayu, L.M. (2016). Dinamika Maskulinitas dan Femininitas dalam Novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas Karya Eka Kurniawan. Metasastra, 9(1), 13-24.

Priyatna, A. (2018). Kajian Budaya Feminis Tubuh, Sastra, dan Budaya Pop. Yogyakarta: Arti Bumi Intaran.

Putri, S. S., Hamad, I., Rusadi, U. (2018). Bromance Representation in Popular Korean Drama: A Korean Odyssey Drama in Online Video Streaming Sites. Paper presented at the Indonesia International Graduate Conference on Communication, .

Putri, W., Mursalim, Dahri Dahlan. (2020). Tanggapan Remaja di Samarinda terhadap Novel Populer Jingga dan Senja Karya Esti Kinasih: Kajian Resepsi Sastra. Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya, 4(2), 201-210.

Rahmaningsih, N. D. M., W. . (2014). Dinamika Konsep Diri Pada Remaja Perempuan Pembaca Teenlit. Jurnal Psikologi Indonesia, 41(2), 179 – 189

Rinesti, K. L. (2016). Bromance, Kenapa Nggak? . PijarPsikologi. https://pijarpsikologi.org/bromance-kenapa-nggak/

Robinson, S. A., Eric; White, Adam. (2017a). The Bromance: Undergraduate Male Friendships and the Expansion of Contemporary Homosocial Boundaries. Sex Roles. doi:http://dx.doi.org/10.1007/s11199-017-0768-5

Robinson, S. W., Adam; Anderson, Eric. (2017b). Privileging the Bromance: A Critical Appraisal of Romantic and Bromantic Relationships. Men and Masculinities, 1-22. doi:https://doi.org/10.1177/1097184X17730386

Setiaji, B. R. (2020). Bromance (Persahabatan Laki-laki) Tak Kalah Solid dengan Persahabatan Perempuan. HelloSehat. https://hellosehat.com/mental/hubungan-harmonis/apa-itu-bromance-adalah/

Tait, R. C. (2016). The Screwball Bromance: Regression, Bisexuality, and Reconfigured Masculinity in Step Brothers. Journal of Men’s Studies, 24(1), 60-77.

Thomson, L. J. (2015). Reading the bromance: homosocial relationships in film and television. Journal of Gender Studies, 24(3), 368-370. doi:http://dx.doi.org/10.1080/09589236.2015.1005976

Tong, R. P. (2010). Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif Kepada Aliran Utama Pemikiran Feminis (A. Priyatna, Trans.). Yogyakarta: Jalasutra.

Widjayanti, E. P. (2016). The Ideology of Popular Culture in Esti Kinasih’s Fairish. Leksema, 1(2), 99-109.

Wolfe, K. (2016). 5 Reasons Guys Need Bromance. goodguyswag. http://goodguyswag.com/reasons-guys-need-bromance/

Penulis

Tania Intan
tania.intan@unpad.ac.id (Kontak utama)
Nany Ismail
Biografi Penulis

Tania Intan, Departemen Susastra dan Kajian Budaya, Universitas Padjadjaran, Indonesia

Departemen Susastra dan Kajian Budaya

Nany Ismail, Departemen Linguistik, Universitas Padjadjaran, Indonesia

Departemen Linguistik
Intan, T., & Ismail, N. (2021). Representasi Bromance dan Maskulinitas dalam Novel Untuk Dia Yang Terlambat Gue Temukan Karya Esti Kinasih. Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra, 14(2), 95–108. https://doi.org/10.30651/st.v14i2.6890

Rincian Artikel

No Related Submission Found