Kajian Sosiologi Sastra Menggali Identitas Budaya pada Legenda Gunung Kelud
Abstrak
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan mengungkapkan unsur-unsur yang terkandung dalam Legenda Gunung Kelud yang mencerminkan identitas budaya masyarakat sekitar. Melalui analisis sosiologi sastra, penelitian ini mengkaji hubungan antara cerita rakyat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, serta peranannya dalam pelestarian budaya dan moral. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan historis dengan menggunakan analisis normatif dan interpretatif. Data dikumpulkan melalui observasi, pencatatan dan analisis dokumen yang bersumber dari buku, artikel yang berkaitan dengan legenda Gunung Kelud. Hasil penelitian menunjukkan bahwa legenda Gunung Kelud memiliki relevansi yang kuat dalam kehidupan masyarakat, khususnya dalam praktik tradisi seperti ruwatan dan larung sesaji. Legenda ini berfungsi sebagai penjaga identitas budaya, mempererat solidaritas sosial, dan mengajarkan nilai-nilai spiritual serta moral yang berkaitan dengan keseimbangan alam. Selain itu, legenda ini juga berperan dalam memperkenalkan dan melestarikan kebudayaan lokal, serta menjadi bagian penting dari tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
ABSTRACT
This study aims to reveal the elements contained in the Legend of Mount Kelud, which reflect the cultural identity of the surrounding community. Through a sociological analysis of literature, this study examines the relationship between folklore and the daily lives of the community, as well as its role in preserving culture and morals. The method used in this study is a historical approach using normative and interpretative analysis. Data were collected through observation, recording, and analysis of documents sourced from books and articles related to the legend of Mount Kelud. The results of the study indicate that the legend of Mount Kelud has a strong relevance in the lives of the community, especially in traditional practices such as ruwatan (rituals purifation) and larung sesaji (ritual purufacation). This legend serves as a guardian of cultural identity, strengthens social solidarity, and teaches spiritual and moral values related to the balance of nature. In addition, this legend also plays a role in introducing and preserving local culture, and is an important part of the oral tradition passed down from generation to generation.
Artikel teks lengkap
Referensi
Alfath, E. D., & Permana, Y. S. (2016). Festival 1000 Tumpeng: Komodifikasi tradisi, pariwisata, dan ‘territoriality’di Gunung Kelud The Festival of 1000 Tumpeng: Commodification of tradition, tourism, and ‘territoriality’in Kelud Mountain. 29.
Buqori, I. S. (2008). Potensi Gunung Kelud Sebagai Daya Tarik Wisata Kabupaten Kediri.
Dolong, J. (2016). Teknik analisis dalam komponen pembelajaran. Inspiratif Pendidikan, 5(2), 293–300.
Nasution, M. P. (2023). Metode Penelitian Kualitatif. In M. Dr. Hj. Meyniar Albina (Ed.), Sustainability (Switzerland) (Vol. 11, Issue 1). CV.Harfa Creative.
Gunawan, A. (2016). Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi Melalui Penggunaan Media Pendidikan dalam Pembelajaran IPS SD. Pedagogi: Jurnal Penelitian Pendidikan, 3(2).
Herminingrum, S. (2021). Kearifan Lokal Masyarakat Tradisional Gunung Kelud. Media Nusa Creative (MNC Publishing).
Lelono, T. M. H. (2015). Tradisi Ruwatan : Bersih Bumi Kearifan Lokal dalam Mitigasi Bencana. Balai Arkeologi, 35(2), 162. https://doi.org/10.24832/berkalaarkeologi.v35i2.62
Mulia Sulistyowati. (n.d.). Mitos Dan Nilai Local Wisdom (Kearifan Lokal) Tradisi Larung Sesaji Sebagai Tolak Bala Di Kawah Gunung Kelud Desa Sugih Waras Kabupaten Kediri. 8.
Mutiah, D. (2023, 29 November) Trend Pariwisata Hijau Makin Naik di 2024, Wisata Alam Makin
Dilirik tapi Belum Digarap Optimal. Diakses pada 12 Desember 2024, dari https://www.liputan6.com/lifestyle/read/5467658/tren-pariwisata-hijau-makin-naik-di-2024-wisata-alam-makin-dilirik-tapi-belum-digarap-optimal
Nasution, A. F. (2023). Metode penelitian kualitatif.
Stalis, S. S. F. D., Fitrah, Y., & Dewi, Y. (2022). Nilai Budaya Legenda Bukit Perak Sebagai Bahan Ajar Bahasa Indonesia Kelas X. Jurnal Bahasa Indonesia Prima (BIP), 4(1), 200–207.
Verulitasari, E., & Cahyono, A. (2016). Nilai Budaya dalam Pertunjukan Rapai Geleng Mencerminkan Identitas Budaya Aceh. Juranal Catharsis, 5(1), 41–47.
Wahyudi, D. Y., & Jati, S. S. P. (2018). Arca Dwarapala Raksasa Gaya Seni Kadiri, Singhasari & Majapahit.
Penulis
Hak Cipta (c) 2026 Insani Wahyu Mubarok, Mayaza Dini, Dian Karina Rachmawati

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Hak Cipta
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra by FKIP UMSurabaya diatur lisensinya dibawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional.
Penulis mempertahankan seluruh haknya atas artikel yang diterbitkan jurnal ini, seperti (namun tidak terbatas pada) hak cipta dan hak kepemilikan lainnya yang berkaitan dengan artikel tersebut, seperti hak paten; hak untuk menggunakan substansi artikel dalam karyanya di masa depan, termasuk ceramah dan buku; hak untuk memperbanyak artikel untuk keperluan sendiri, hak untuk mengarsipkan sendiri artikel tersebut; hak untuk mengadakan pengaturan kontrak tambahan yang terpisah untuk distribusi non-eksklusif dari versi terbitan artikel (misalnya, mempostingnya ke repositori institusi atau menerbitkannya dalam buku), dengan pengakuan atas publikasi awalnya di jurnal ini.
Lisensi
Setiap karya yang ditulis penulis dilisensi dengan Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional