ZONASI SEBAGAI INSTRUMEN KEADILAN DISTRIBUTIF: ANTARA PEMERATAAN AKSES DAN REPRODUKSI KETIMPANGAN SOSIAL DALAM PENDIDIKAN
DOI:
https://doi.org/10.30651/jses.v5i2.32281Kata Kunci:
keadilan distributif, kebijakan zonasi, ketimpangan sosial, pemerataan pendidikan, SPMBAbstrak
Kebijakan zonasi dalam penerimaan peserta didik baru telah diterapkan sejak 2017 sebagai upaya pemerataan akses dan mutu pendidikan, sekaligus menghapus dikotomi sekolah favorit dan nonfavorit. Sejak 2025, kebijakan ini disempurnakan menjadi jalur domisili dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Penelitian ini bertujuan menganalisis sejauh mana kebijakan zonasi mewujudkan keadilan distributif dalam mengurangi ketimpangan sosial, menggunakan teori keadilan John Rawls sebagai kerangka analisis. Penelitian dilakukan melalui pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara semiterstruktur terhadap wali murid yang berasal dari beragam latar belakang sosial-ekonomi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zonasi dinilai adil dalam mendekatkan akses anak ke sekolah dan membuka peluang masuk ke sekolah yang sebelumnya dianggap elit. Namun, keadilan tersebut terganjal oleh hambatan administratif berbasis NIK yang menyingkirkan kelompok rentan, maraknya manipulasi domisili, serta ketegangan dengan logika meritokrasi. Penelitian menyimpulkan bahwa zonasi baru memenuhi sebagian janji keadilan distributif pada tataran akses, namun belum menjamin keadilan substantif selama mutu antarsekolah belum merata. Diperlukan integritas prosedural, perlindungan afirmatif yang operasional, dan pemerataan mutu dalam transisi menuju SPMB.
Referensi
Ahmad, I. F. (2021). Evaluasi implementasi kebijakan penerimaan peserta didik baru tahun 2021 dengan sistem real time di Kota Yogyakarta. Jurnal Review Pendidikan Dasar: Jurnal Kajian Pendidikan dan Hasil Penelitian, 7(3), 129–135.
Bourdieu, P. (1986). The forms of capital. Dalam J. G. Richardson (Ed.), Handbook of theory and research for the sociology of education (hlm. 241–258). Greenwood Press.
Coleman, J. S. (1988). Social capital in the creation of human capital. American Journal of Sociology, 94(Suppl.), S95–S120. https://doi.org/10.1086/228943
Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (4th ed.). SAGE Publications.
Hoerudin, C. W. (2019). Evaluation of new student admission policy based on zonation system in Bandung City. JISPO: Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 9(2), 351–361. https://doi.org/10.15575/jispo.v9i2.5483
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2021). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 1 Tahun 2021 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru pada TK, SD, SMP, SMA, dan SMK.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. (2025). Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 3 Tahun 2025 tentang Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Mahpudin, M. (2020). Hak warga negara yang terampas: Polemik kebijakan sistem zonasi dalam pendidikan Indonesia. Jurnal Transformative, 6(2), 148–175.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.
Nurviana, N., Hawi, A., & Maryamah, M. (2021). Manajemen penerimaan peserta didik baru sistem zonasi tingkat sekolah menengah atas di Sekayu. JIEMAN: Journal of Islamic Educational Management, 3(1), 81–104. https://doi.org/10.35719/jieman.v3i1.68
Owens, A., Reardon, S. F., & Jencks, C. (2016). Income segregation between schools and school districts. American Educational Research Journal, 53(4), 1159–1197. https://doi.org/10.3102/0002831216652722
Perdana, N. S. (2019). Implementasi PPDB zonasi dalam upaya pemerataan akses dan mutu pendidikan. Jurnal Pendidikan Glasser, 3(1), 78–92.
Rawls, J. (1999). A theory of justice (Rev. ed.). Harvard University Press.
Rawls, J. (2001). Justice as fairness: A restatement (E. Kelly, Ed.). Harvard University Press.
Reardon, S. F., & Owens, A. (2014). 60 years after Brown: Trends and consequences of school segregation. Annual Review of Sociology, 40, 199–218. https://doi.org/10.1146/annurev-soc-071913-043152
Saharuddin, E., & Khakim, S. M. (2020). Implementasi kebijakan sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik baru pada tingkat SMA di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dinamika: Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi Negara, 7(3).
Savitri, A., & Rahaju, T. (2021). Implementasi kebijakan zonasi penerimaan peserta didik baru sebagai upaya pemerataan mutu pendidikan (Studi pada jenjang SMA Negeri di Kota Surabaya). Publika, 9(1), 161–170.
Setiawan, H. R., & Rahaju, T. (2021). Evaluasi sistem zonasi penerimaan peserta didik baru (PPDB) tingkat SMP di Kota Surabaya. Publika, 9(4), 491–502.
UNESCO. (2019). Global education monitoring report 2019: Migration, displacement and education – Building bridges, not walls. UNESCO Publishing.
Winarti, N., Rahmi, K., Octa, R., & Charin, P. (2023). Harapan pemerataan menghadirkan kesenjangan: Analisis dampak kebijakan sistem zonasi penerimaan peserta didik baru (PPDB) Kota Tanjungpinang. Jurnal Ilmu Pemerintahan Widya Praja, 49(2), 210–225.
World Bank. (2018). World development report 2018: Learning to realize education’s promise. World Bank. https://doi.org/10.1596/978-1-4648-1096-1
Yin, R. K. (2018). Case study research and applications: Design and methods (6th ed.). SAGE Publications.



